Sirsak Vs Kangker

Saturday, July 13th, 2013

post14

Pada tahun 1951, Prof Clery Salazar, yang berkerja di Faultas Pertanian di Mayaguez, Puerto Rico, sudah memulai mendorong pengembangan produk sirsak di Negara tersebut. Riset mengenai khasiat sirsak atau popular disebut dengan graviola ini sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1976 oleh The National Cancer Institute, Amerika Serikat. Hasil riset membuktikan bahwa daun dan tunas sirsak dapat menyerang dan merusak sel kangker. Namun hasil riset ini tidak dipublikasikan. Setelah sekitar 7 tahun taka da beritanya, akhirnya muncul berita keajaiban sirsak yang dipublikasikan oleh The National Cancer Institute.
“ hasil riset menyatakan sisak mengandung asetoginin yang mampu melawan 12 jenis sel kangker ”
Sekitar tahun 1995-1996, Prof. Soelaksono Sastrodihardjo, seorang entomology dari Departemen Biologi ITB, yang pada waktu itu bertugas sebagai Direktur di Pusat Antar Universitas (PAU) Ilmu Hayati bersama dengan Dr. jerry Mc. Laughlin, seorang farmakolog dari Universitas Purdue Amerika Serikat, melakukan riset terhadap daun Sirsak. Saat melakukan riset, Dr Mc. Laughlin dibantu dengan Feng E Wu, seorang mahasiswi Korea Selatan. Pengumpulan daun sirsak dilakukan di daerah Garut, Jawa Barat. Mc Laughlin dan mahasiswanya mengumpulkan daun sirsak, mengeringkannya, lalu membawanya ke Amerika serikat. Dalam tahun 1996-1998, Mc Laughlin mempublikasikan kandungan sirsak dalam beberapa jurnal yang terbit di Amerika. Dia melaporkan bahwa sirsak mengandung senyawa asetoginin yang terdiri dari murikatosin A, murikatosin B, anomurisin E, murikapentosin, anopentoson A, anopentosin B, dan anopentosin C. senyawa annonaceous asetoginin ini terkandung dalam daun, tunas, kulit kayu, dan biji sirsak.
Asetoginin sirsak ini mampu melawan 12 jenis sel kangker. Menurut Soelaksono, sampel dari Indonesia diujicobakan pada sel kangker paru-paru, kolon, dan kangker lainnya. Atas penemuan di bidang ini, Mc. Laughlin memperoleh patennya.
banyak riset terhadap sirsak memfokuskan dapa kandungan fitokimianya, yaitu annonaceous asetogenin yang merupakan senyawa golongan lakton, bahkan, khasiat senyawa ini sebagaianti tumor yang kuat telah dipatenkan di Amerika Serikat. Annonaceous asetogenin ternyata juga bersifat sitotoksikterhadap leukemia. Berdasarkan berbagai penelitian yang dilakukan di AMerika Serikat, terbukti sirsak mempunyai kemampuan sebagai pembunuh alami sel kangker dengan kekuatan 10.000 kali lebih kuat dari kemoterapi.
Penelitian memperlihatkan bahwa ekstrak dari pohon ajaib ini dapat digunakan untuk emlawan sel kangker secara aman dan efektif tanpa menyebabkan mual yang berlebhan, berat badan turun, dan kerontokan rambut. Suatu review yang dimuat di majalah “The Journal of natural Products” Tahun 1999 melaporkan bahwa senyawa-senyawa asetogenin dalam tumbuhan kelompok Annonaceae menjanjikan khasiatnya sebagai antitomur. Secara kimiawi, senyawa-senyawa ini merupakan derivate (turunan) dari asam lemak rantai panjang. Sementara secara biologis senyawa tersebut memperlihatkan bioaktivitasnya yang poten melalui deplesi kadar ATP dengan cara menghambat komplek I dari mitokondria dan menghambat enzim oksidase NADH dari membrane plasma sel tumor. Menurut Prof. Soelaksono Sastrodihardjo PhD., asetogenin menghambat ATP yang merupakan sumber energy didalam sel. Sel kangker mebutuhkan energy banyak sehingga membutuhkan banyak ATP. Asetogenin masuk menempel di reseptor dinding sel serta merusak ATP di dinding mitokondria. Akibatnya, produksi energy dalam sel kangker terhenti dan akhirnya sel kangker akan mati. Pada pemberian kemoterapi, obat tersebut tidak bisa membedakan sel kangker dan sel sehat. Oleh karena itu, sel-sel sehat yang bereproduksi secara aktif seperti sel lambung dan rambut dibunuh oleh kemoterapi sehingga timbul efek samping, rambut rontok dan mual. Riset dari study University Catholic Korea Selatan adalah sirsak bisa menyeleksi dan membunuh hanya sel kangker tanpa mengganggu sel yang sehat.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *